Jika musuh tidak mau menyerah,
maka dia harus dihancurkan![Maxim Gorkhy]
Tulisan ini hendak menjadi landasan berpikir bagi gerakan mahasiswa Indonesia yang oleh banyak pengamat dianggap telah mengalami dis-orientasi, krisis kepercayaan dari rakyat, bahkan telah kehilangan elang gerakannya—tidak segarang tahun 1998, dan sebagainya. Setidaknya udah begitu banyak konsolidasi nasional dilakukan oleh kawan2 tetapi belum berujung pada jalan keluar dari problem gerakan saat ini karena selama ini konsolidasi masih sebatas ajang seremonial belaka, saling kenal dari kawan2 berbagai daerah [ outputnya terkadang hanya tukar-menukar no.HP] dan yang paling parahnya malah menimbulkan fragmentasi. Kupikir kita berkumpul bukan sekedar menghabiskan energi kita termasuk sumber daya logistik tampa melahirkan sebuah jalan keluar bagi kebuntuan gerakan mahasiswa. Makanya, kuharap konsolidasi nasional ini bisa menjadi ajang membangun perdebatan strategi-taktik untuk memajukan gerakan mahasiswa—semoga.
Perjuangan mahasiswa tahun 1998 yang diagung-agungkan sebagaian kawan2, sebagian lagi mencelanya sebagai gerakan yang gagal karena tidak mampu melahirkan perubahan mendasar; kesejahteraan bagi Rakyat. Tapi, bagiku mengandung segi-segi positif dan negatif bagi perjuangan mahasiswa dan rakyat Indonesia kedepan, tapi perlu di tekankan disini bahwa segi positif dan negatif bukanlah hal yang harus ditangisi disini tetapi merupakan material yang menyebabkan gerak-menurut filsafat. Yang di maksud segi-segi positif dari perjuangan mahasiswa tahun 1998 disini antara lain; [1] berhasil menjatuhkan symbol kediktatoran rejim orde baru-soeharto lewat aliansi mahasiswa-Rakyat [buruh-Tani-Kaum Miskin Perkotaan], hal ini semakin membuka perspektif gerakan mahasiswa bahwa untuk menuntaskan perjuangan ini—reformasi total harus ada aliansi strategis gerakan mahasiswa dan rakyat. [2] walaupun tidak tuntas telah mampu merubah struktur politik-maksudnya membuka ruang2 demokrasi seperti kebebasan pers, kebebasan membangun organisasi massa, pertemuan politik, dan pemilu multi partai tahun 1999 meskipun harus diakui bahwa ini masih dalam syarat2 demokrasi borjuis,[3] telah meluaskan aksi massa sebagai metode perjuangan bagi massa rakyat [4] meluaskan kesadaran kritis/politik selama 32 tahun floating mass meskipun masih terkadang tingkat kesadaran politik ini masih sangat rendah dan mudah dimanipulasi elit politik. Sedangkan segi-segi negatifnya adalah;[1] kelemahan strategi-taktik; membuat mahasiswa tidak mampu membangun struktur politik alternatif bersama gerakan rakyat sehingga kepeminpinan politik -baca;transisis demokrasi- di telikung oleh borjuis reformis palsu.[2] fragmentasi gerakan, karena kesalahan memandang dan menyimpulkan situasi ekonomi-politik yang berkembang contoh dalam kasus menentukan sikap terhadap pemilu 1999[3] kelemahan ideology gerakan membuat gerakan mahasiswa tidak cukup kuat bertahan di tengah liberalisasi politik dan perkembangan politik yang begitu cepat.
Nah, dari segi-segi positif inilah kami berpandangan bahwa gerakan mahasiswa kemudian mengalami kemunduran drastis dalam hal kemampuan mobilisasi dan kualitas gerakan [ideology-politik-organisasi]. Situasi ini semakin diperparah oleh tidak adanya konsolidasi-dalam makna penyatuan gerakan sehingga sulit menentukan -atau membaca dinamika politik yang ada. Yang marak terjadi-terutama jakarta adalah[1] Gerakan mahasiswa sangat latah dengan situasi politik yang ada-baca; bersandar pada momentum. [2] karena kelemahan diatas, gerakan mahasiswa terjebak pada pragmatisme; ideologi Kei-makelar politik marak di tingkatan aktivis dan organisasi mahasiswa organisasi-komite aksi yang tidak memiliki prinsip organisasi yang kuat.
Demokrasi liberal; Tantangan Bagi gerakan Mahasiswa -Rakyat.
Dalam kesimpulan kami, bahwa saat ini terjadi perubahan situasi politik antara tahun 1998 dan sekarang ini. Tahun sebelum 1998-kejatuhan soeharto, situasinya adalah kediktatoran dimana aktivis gerakan mahasiswa bekerja dalam situasi syarat2 refresif sehingga perjuangan demokratisasi menjadi aspek pokok dalam perjuangannya. Saat ini pasca kekuasaan habibie yang menandatangani Letter Of Intent[LOI] yang menjadikan praktek Neoliberalisme semakin massif di Indonesia. Neoliberalisme mensyaratkan demokrasi liberal —pemilu-dan mekanisme Undang2 yang lebih fleksibel terhadap dominasi Modal, telah merubah struktur politik kita. Demokrasi formal ini kemudian menkanalisasi segala bentuk gejolak politik ditingkatan massa, misalnya kesadaran politik di massa rakyat dikanalisasi dengan Pilkada, program sosial seperti BLT, Askeskin, Dana BOS dan lain sebagainya. Disisi lain gerakan revolusioner tidak punya struktur progaponda alternatif untuk melawan dominasi propoganda borjuis sehingga yang terjadi kemudian kesadaran politik massa bisa dikanalisasi menurut syarat2 demokrasi borjuis. Contoh paling konkret statement SBY dan Mallarangeng menanggapi gerakan cabut mandat sebagai Inskonstitusional karena menghendaki pergantian kekuasaan politik tanpa melalui mekanisme demokrasi konstitusional yaitu pemilu 2009.
Demokrasi borjuis berbicara tentang mekanisme prosedural, dimana SBY-JK adalah presiden yang terpilih secara lansung dengan perolehan suara sekitar 60 juta orang rakyat indonesia yang memiliki hak pilih. Dalam hitungan demokrasi liberal aksi massa yang jumlahnya 100-an orang bahkan hingga ratusan ribu[1] tidak manpu menurunkan tingkat legitimasi secara formal SBY-JK yang di pilih oleh Kurang lebih 60 Juta orang rakyat dalam pemilu 2004.
Pandangan gerakan mahasiswa bahwa gerakan harus berada dalam rel gerakan moral [moral force movement] adalah sepenuhnya menyesatkan karena mana mungkin mendesakkan perubahan mendasar ketika serangan kita tidak pernah menohok pusat kekuasaaan yang merupakan pusat lahirnya kebijakan yang anti Rakyat, anti demokrasi dan pro-Imperialisme. Gerakan Moral secara histories lahir dari polarisasi gerakan mahasiswa tahun 1947; gerakan mahasiswa progressif memandang kebutuhan gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik yang berkolaborasi dengan massa rakyat untuk menuntaskan revolusi Indonesia. Ini identik dengan gerakan mahasiswa kiri yang memang menguasai lembaga kampus dan lembaga penerbitan, dan juga jaringan mahasiswa Nasional yang tergabung dalam PPMI membentuk Front Pemuda Indonesia [FPI], sedangkan lawannya gerakan mahasiswa yang di kooptasi oleh Belanda/kolonial dan kelompok tentara dan sayap kanan seperti Masyumi dan PSI keluar dari FPI ditahun 1950an dan membentuk solidaritas mahasiswa lokal[SOMAL} dan mengibarkan slogan2 back to campus, kebebasan akademik, mahasiswa tidak boleh berpolitik dan sebagainya. Sekarang ini banyak hal yang sangat oprtunis yang dipertontonkan oleh teman2 kita yang mengklaim dirinya sebagai gerakan moral, menolak gerakan politik tetapi terlibat dalam politik praktis seperti sebahagian teman2 di HMI yang banyak masuk GOLKAR, dan kawan2 di KAMMI yang sepenuhnya juga anngota Partai Keadilan Sejahtera[PKS].
Bagi kami gerakan moral di dalam gerakan mahasiswa dan non-partisan yang banyak dianut kawan LSM/NGO dan kaum intelektual kampus sangat kontraproduktif dengan kebutuhan memajukan gerakan rakyat. Gerakan mahasiswa harus benar-benar membersihkan dirinya dari pandangan-pandangan yang tidak mendasar dan belum pernah dibuktikan oleh kajian sejarah yang mendalam. Pandangan-pandangan ini diwakilkan oleh kata-kata seperti reformasi, gerakan moral, bukan partisan, tanpa kekerasan dan lain-lain. Semua paham-paham ajaib ini dihembus-hembuskan ke telinga mahasiswa oleh orang-orang (elit politik) yang ketakutan posisinya terancam jika gerakan mahasiswa menjadi radikal dan mulai bergabung dengan rakyat. SBY-JK dan elit politik yang berkuasa saat ini misalnya, akan sangat takut kehilangan massanya jika gerakan mahasiswa bergabung dengan rakyat dan memperlihatkan ke mata rakyat kebusukan-kebusukan mereka. Termasuk juga dalam pandangan-pandangan ajaib ini adalah kecenderungan ingin bentrok tanpa perhitungan yang matang. Satu tahun gerakan mahasiswa turun ke jalan, yang tercipta hanyalah orang-orang yang jago dalam street fighting dengan kecenderungan ultra-kiri (kiri kenakan-kanakan), bukan orang-orang yang mampu memperbesar massa secara masif[2].
Imperialisme sebagai Problem Pokok Rakyat Indonesia
Banyak intelektual kanan termasuk intelektual kiri-baru menuduh bahwa imperialisme hanya sebatas wacana, jargon yang selalu diangkat gerakan mahasiswa kiri dan sudah tidak relevan dalam konteks gerakan sekarang. Banyak gerakan yang terjebak dalam pandangan ini, seolah globalisasi yang terjadi sekarang sebagai fenomena baru, yang karakternya sangat khusus sehingga kelimpungan untuk menghadapinya; muncullah sosial movement dimana-mana yang mengharamkan gerakan klas, politik klas dan perebutan kekuasaan negara borjuis karena menganggap negara telah mati dalam konteks globalisasi sekarang. Mari kita lihat, dan periksa baik2 agar tidak terjebak pada kesalahan fatal; negara menurut kami dalam konteks sekarang malah semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh MNC/TNC untuk memastikan kelancaran arus modal menyerbu negara2 dunia ketiga, serangan AS ke Iraq, Afghanistan dan terkahir Somalia adalah bukti betapa dibutuhkannya negara sebagai medium untuk memaksakan dominasi modal, penambahan anggaram militer dan penggunaan jalan kekerasan semakin meunjukkan bahwa konteks sekarang tidak jauh beda dengan konteks sebelumnya kolonialisme, perang dunia I dan II, dan sebagainya.
Kunjungan Bush ke Indonesia yang berujung pada penyerahan blok Natuna, blok cepu, dan jaminan investasi AS di Indonesia di Bidang pertambangan seperti PT.Freeport adalah bukti konkret betapa dibutuhkannya negara untuk memediasi modal. Dan kolaborasi pemerintahan Bush dan rejim SBY-JK adalah penampakan nyata Imperialisme di Indonesia bahwa Imperialis AS punya agen di Indonesia yaitu rejim yang berkuasa sekarang.
Bagaiamana bentuk dominasi tersebut berlansung; sejak kolapsnya rejim Habibie- dan model kapitalisme kroni maka rejim habibie penerus soeharto kemudian memberi ruang yang besar bagi IMF sebagai syarat pencairan utang luar negeri sebagai dana segar untuk menyelesaikan krisis moneter di Indonesia. Utang luar negeri, dalam prakteknya hanyalah alat bagi Imperialis—debt trap -indonesia kemudian semakin tergiring dalam perangkat utang luar negeri dan semakin di paksa untuk menjalankan syarat-syarat ekonomi ketentuan IMF yang disebut Struktural Adjusman Program[SAP]- itulah neoliberalisme. Jeffrey Winters menyebutkna hingga krisis ekonomi 1997, hutang Indonesia yang layak disebut hutang najis (odious debt) sedikitnya US$30 miliar, dimana US$10 miliar dari Bank Dunia, sisanya dari ADB, serta lembaga multilateral dan bilateral lainnya. Rejim-rejim yang berkuasa kemudian melaksanakan paket2 kebijakan ekonomi neoliberal tersebut seperti; pencabutan subsidi, liberalisasi perdagangan, privatisasi/swastanisasi, restrukturisasi perbankan, regulasi perundang-undangan dan lain sebagainya.
Sektor pertambangan adalah lumbung rejeki yang selama ini memperbesarkan kantong2 imperialis, sejak jatuhnya rejim nasionalis Soekarno dan Soeharto naik; sektor pertambangan telah menjadi upeti utama bagi imperialis; masuknya Freeport tahun 1968, Newmont, Astra International, ExxonMobil, Shell, Petronas, Total, Chevron, dan Texaco semakin menjelaskan kuatnya dominasi imperialisme Indonesia dan merampas kedaulatan negara kita. Legitimasi lewat Undang-Undang Migas tahun 2001 untuk memberi keleluasaan MNC/TNC Migas untuk menjarah kekayaan Migas kita. Coba bayangkan! Ditengah kekayaan alam negara kita, disektor Migas saja, sebuah perusahaan multi nasional (MNC) yang bergerak dalam bidang eksplorasi dan eksploitasi migas yang keuntungan per 2005 nya sebesar 36,2 miliar dolar AS ( 362 triliun rupiah ). Sedangkan disisi lain sekitar 120-140 juta rakyat indonesia di garis kemiskinan menurut Versi Bank Dunia dan Asian Develovment Bank.
Krisis energi di pusat-pusat imperialis, seperti AS, semakin memaksa mereka untuk mencari sumber-sumber energi—ladang2 minyak untuk mensupport industri mereka, maka jalan kekerasan pun bisa ditempuh untuk maksud tersebut. Di Indonesia untuk memastikan ketundukan SBY-JK, Menlu condoleezza Rice dan George W. Bush berturut-turut datang ke Indonesia menemui kaki-tangannya, sebelumnya presiden SBY juga mengunjungi AS. Perluasan dominasi imperialis AS dan sekutunya ke negara-negara dunia ketiga mensyaratkan dominasi langsung ; pencaplokan bahan mentah ini disahkan dengan berbagai perangkat Undang2, penguasaan sektor eksplorasi tambang Hulu-hilir oleh imperialis juga berimplikasi pada matinya industri-industri dalam negeri, lihat saja tutupnya indutri pupuk dalam negeri seperti Industri Pupuk Iskandar Muda [PIM] yang ber-batasan tembok dengan ExxonMobile penghasil bahan bakar. Imperialisme hanya akan menjadikan negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia sebagai pemasok bahan baku sekaligus pasar bagi produk-produk mereka. Inilah hakekat dari imperialisme!
Memajukan Gerakan Rakyat dengan Mengintervensi Pemilu 2009; Programnya; Tri Panji Persatuan Nasional sebagai jalan keluar.
Menurut Lenin, ketika tidak ada suhu kenaikan revolusioner—perluasan kesadaran politik massa untuk tidak mempercayai mekanisme pemilu/perlemen borjuis, maka adalah Sah/benar bagi gerakan revolusioner untuk menggunakan jalan parlemen dalam memajukan gerakan revolusioner. Taktik parlementarisme sebenarnya bukan hal yang baru bagi gerakan revolusioner; pengalaman Bolshevik dari 1906-1912, pengalaman Allende di Chile, kemenangan Hugo Chaves dan proyek sosialisme yang kini berjalan di venezuela, dan semakin banyak pemeritahan bertendensi Kiri-populis di Amerika latin adalah contoh-contoh yang bisa dijadikan cermin oleh gerakan revolusioner di Indonesia. Ada banyak kawan2 yang berpandangan bahwa jangan asal copy paste karena indonesia beda dengan amerika latin, situasi objektifnya sangat beda bung! Adalah sepenuhnya benar menurut kami. Tetapi sekaligus adalah kesalahan dan pengingkaran terhadap materialisme histories dan materialisme dialektis jika tidak menjadikan pengalaman itu sebagai cerminan untuk belajar, karena dalam filsafatpun materialisme dialektis pun diajarkan bahwa memang ada kekhususan dalam setiap materi dan perkembangan sebuah materi, tetapi keumuman kontradiksi sebuah materi adalah bentuk lain dari gerak sebuah materi. Pengalaman front persatuan yang di tunjukkan oleh Movement toward Sosialism[MAS] partainya Evo Morales, Front persatuannya Unidad Popular Allende mampu mengatasi fragmentasi gerakan di chile adalah pengalaman berharga bagi kami dalam bagaimana menjalankan Taktik front persatuan dan juga dalam lapangan politik partai Front/persatuan. Penurunan situasi revolusioner pasca revolusi 1905 dan pemberontakan desember di Rusia memaksa gerakan revolusioner harus terlibat dalam DUMA buatan Tsar untuk meluaskan agitasi-proganda Bolshevik akan program revolusioner, adalah pelajaran histories yang sangat berharga.
Perjuangan mahasiswa-rakyat tahun 1998 memang telah melahirkan segi-segi positifnya bagi perkembangan demokrasi seperti; kebebasan mendirikan ormas, partai politik dengan sistem multi partai, serikat buruh, kebebasan mengutarakan pendapat; aksi dan demonstrasi, yang walaupun kesimpulan kita itu masih dalam batasan-batasan yang sangat minimal karena dalam beberapa kasus penguasa /pemerintah berkuasa masih sering menggunakan metode-metode refresif untuk menghadapi protes-protes rakyat. Sehingga ada sebuah kebutuhan obyektif gerakan kedepan dalam makna keloporan kita [mahasiswa] untuk semakin membuka luas ruang-ruang demokrasi yang nantinya bisa menguntungkan perjuangan rakyat, terutama untuk berorganisasi secara bebas tanpa dikontrol dan dihambat, kebebasan dalam menemukan ideologi yang tepat yakni Demokrasi Kerakyatan, sebagai Ideologi kami. Inilah salah satu basis material kenapa kami melihat ada kebutuhan mengintervensi pemilu 2009 untuk kepentingan ini.[3]
Menurut kami, kebutuhan gerakan mahasiswa sekarang sebagai jawaban problem Gerakan[4] yakni; [1] konsolidasi sektoral mahasiswa, tahapannya bisa dua. Pertama konsolidasi BEM2 satu sisi dan konsolidasi organisasi ekstra disisi lain, kedua konsolidasi bersama dalam bentuk rembug mahasiswa nasional[5]. Kosolidasi sektoral ini akan membuka diri atau mampu terlibat aktif pada konsolidasi multi-sektoral gerakan rakyat [2] merumuskan strategi-taktik perjuangan yang tepat, sebagai kesimpulan pembacaan situasi sekarang dan sejarah perkembangan masyarakat indonesia. [3] merumuskan program-program strategis sebagai solusi problem pokok rakyat indonesia.
Kebijakan neoliberalisme telah menimbulkan perlawanan dimana-mana, semua sektor telah bergerak dengan tuntutannya masing2 tetapi perlawanan itu masih sangat spontanitas sifatnya, masih sangat ekonomis tuntuntannya, masih lemah kepeminpinan gerakan revolusioner didalamnya. Ini harus dimajukan, ini harus di dorong tindakan politiknya agar lebih radikal-bermuara pada pembebasan sejati rakyat. Tapi bagaiaman caranya? Apa alatnya?. Demokrasi liberal telah mengkerangkeng kesadaran politik rakyat dengan ilusi dan kesadaran palsu bahwa perubahan politik yang legal hanya dengan jalan pemilu yang demokratis, kita tidak boleh menggunakan jalan kekerasan -berdarah-darah, karena pengalaman 1998 telah membuktikan jalan kekerasan toh tidak menimbulkan perubahan apa2; Begitulah kira-kira argumentasi para politisi borjuis-demokrat liberal. Rakyat harus disadarkan, rakyat harus diberi pendidikan politik lansung lewat pengalaman lansung perjuangan parlementer yang dikombinasikan dengan perjuaangan Massa-ekstraparlementer. Logikanya, perjuangan di lapangan parlemen akan semakin medorong maju kesadaran politik rakyat bahwa kita harus membangun kekuatan alternatif yang ber-sinergi pada semakin memperbesarnya gerakan massa-ekstra parlementer. Inilah landasan kenapa beberapa organisasi revolusioner di Indoensia seperti Partai Rakyat Demokratik[PRD], Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi [LMND], Front Nasional Perjaungan Buruh Indonesia [FNPBI], Gabungan Serikat Perjuangan Buruh [GSPB], Serikat Perjuagan Buruh Transportasi perjuangan Indonesia [SBTPI], Serikat Rakyat Miskin Kota[SRMK], Serikat tani Nasional, Jaringan perempuan Mahardika, Mahasiswa Buddhis [HikmaBudhi], serta berbagai organisasi ( rakyat dan mahasiswa ) di berbagai daerah, membentuk Partai Persatuan Pembebasan Nasional [PAPERNAS] yang akan ikut dalam pemilu 2009 nanti. Program alternatif yang ditawarkan disebut TriPanji Persatuan Nasional; Hapuskan Hutang; Ambil-alih perusahaan tambang: Bangun pabrik (industri) nasional demi kesejahteraan rakyat!! Adalah panji-panji yag harus diperjuangankan rakyat untuk kesejahteraannya.
Dan terakhir kami ingin menuliskan sebuah cukilan dari gerakan mahasiswa Perancis pada saat revolusi perancis Mei 1968 , saat mahasiswa di tuduh sebagai agen komunis, anggota gerakan bawah tanah sayap kiri” Nous Sommes tous les pegres” —kami semua adalah anggota gerakan bawah tanah.
Selamat Berkonsolidasi, dan Selamat Berjuangan! Hidup Mahasiswa-Rakyat.
[1] Aksi buruh pada peringatan MayDay 2005 di depan Istana dan gedung DPR/MPR, aksi di depan DPR0RI berakhir bentrok tidak melahirkan pressure politik berarti malah gerakan buruh di kriminalisasikan. Ini adalah mobilisasi terbesar pasca gerakan 1998.
[2] Sumber; Roysepta Abimanyu; memikirkan kembali gerakan mahasiswa Indonesia. Dept. Pendidikan dan Proganda EN LMND.
[3] Sumber: Tulisan rudy Hartono berjudul [kenapa] mahasiswa Harus Mengintervesi pemilu 2009. Dokumen Partai Persatuan Pembebasan nasional.
[4] Menurut dokumen kongres IV LMND, disimpulkan bahwa kelemahan gerakan mahasiswa yang paling pokok adalah; [1] fragamentasi gerakan-tidak adanya penyatuan dalam bentuk konsolidasi gerakan mahasiswa.[2]. Tidak ada orientasi programatik yang lebih strategis—program alternative bagi gerakan mahasiswa.
[5] Ini untuk mengatasi polarisasi organ ekstra dan intra kampus yang di wariskan orba, tapi kalau ini dalam tahap awal bisa didamaikan maka bisa langsung pada konsolidasi nasional. Apalagi secara structural kawan2 di BEM kebanyakan ada ikatan organisasional dengan organsiasi ekstra seperti LMND, PMII, KAMMI, HMI-MPO, dan lain sebagainya.