Oleh: Rudi Hartono
Gaung dari ikrar kaum muda di gedung juang, 28 oktober 2007 lalu, semakin tidak terbendung. Kemenangan pasangan Heryawan –Dede Yusuf dalam pilkada Jawa Barat diklaim sebagai manifestasi harapan masyarakat akan lahirnya kepemimpinan kaum muda. Alasan untuk menempatkan pasangan Hade sebagai formasi kepemimpinan muda adalah karena usia dari kedua pasangan ini masih relatif lebih muda dan merupakan wajah baru dalam panggung politik Jawa Barat. Fadjroel Rahman, salah satu deklarator ikrar kaum muda, menganggap bahwa momentum kemenangan Hade dalam pilkada Jabar merupakan langkah awal bagi tampilnya kaum muda dalam kepemimpinan nasional dalam pemilu 2009 mendatang. Akan tetapi, pengamat politik UI, Maswadi Rauf, jsutru menganggap bahwa kemenangan Hade tidak bisa dikatakan refresentasi kaum muda, karena perilaku pemilih Jabar masih kabur dan tidak jelas.
Terlepas dari kontroversi soal; apakah pasangan Hade benar-benar merupakan refresentasi dari kaum muda? Yang pasti, tingkat perilaku pemilih dalam berbagai ajang pilkada menunjukkan bahwa rakyat semakin merindukan munculnya tokoh alternatif yang bisa membawa perubahan. Sehingga, ada beberapa tantangan yang harus dijawab oleh kaum muda dalam menanggapi isu “saatnya kaum muda memimpin”. Pertama¸ seperti apa dan bagaimana kaum muda mempersiapkan diri dan kendaraan politiknya dalam rangka merebut kepemimpinan nasional. Kedua, dalam mewujudkan kaum muda sebagai refresentasi kekuatan politik alternative, modal politik apa yang dimiliki kaum muda, yang akan dipropogandakan untuk merebut dukungan rakyat.
Sejarah Indonesia adalah Sejarah Kepeloporan Kaum Muda
Paska politik etis, kaum muda Indonesia telah memainkan peranan progressif sebagai pelopor penemuan ide nasionalisme Indonesia. beberapa tokoh kaum muda kala itu, menjadi tulang punggung pergerakan melawan kolonialisme. Sumpah pemuda, 28 oktober 1928, merupakan momentum sejarah awal dari deklarasi “nasionalisme Indonesia”. berbagai perwakilan pemuda dari berbagai latar-belakang etnis, agama, dan aliran politik berkumpul dan mendeklarasikan sebuah ikrar. Peristiwa rengasdeklok yang disebut-sebut cikal bakal dari proklamasi kemerdekaan, juga merupakan hasil kreasi dari kaum muda. Tidak salah, kalau kemudian Bung Pram menyebut hadiah kemerdekaan sebagai hasil perjuangan kaum muda. Sejarah pergerakan Indonesia menampilkan sosok kaum muda yang mengambil peranan menonjol, tidak salah kalau Bennedict Anderson (1972) menyebut jiwa revolusi Indonesia sebagai revolusi kaum muda.
Kekuatan apa yang melahirkan kaum muda pada saat itu,sehingga menjadi modal politik dalam perjuangan yang sangat menentukan; kemerdekaan. Pertama, pemuda-pemuda waktu terlahir dari politik etis yang dijalankan oleh kolonialisme untuk memacu tenaga produktif bagi perluasan kapitalis swasta. Politis etis melahirkan dunia baru;pengetahuan, Koran, organisasi, kesenian, dan sebagainya. Kedua, mereka terlahir dari sebuah situasi; penghisapan kolonialisme selama beratus-ratus tahun, mengarahkan kepada mereka kesadaran nasionalisme anti kolonialisme.
Merebut Kepemimpinan Nasional
Sejarah merupakan modal awal bagi kaum muda sekarang ini. Sejarah akan memberikan keyakinan sekaligus motivasi bangkit bagi kaum muda dari kunkungan dan dominasi sistem politik yang dijalankan kaum tua. Isyarat pemberontakan kaum muda dari dominasi politik kaum tua sebenarnya sudah berkembang dimana-mana (endemic) dan memperoleh kemenangan kecil (tokens). Penjatuhan rejim Orde baru oleh gerakan mahasiswa merupakan salah satu tanda. Di bidang lain, protes sosial yang dilancarkan grup musik SLANK di kantor KPK, mewakili gejolak ketidakpuasan dan kekecewaan terhadap konfigurasi politik di DPR, yang didominasi kaum tua.
Akan tetapi, sejarah dan kemenangan kecil saja tidak cukup menjadi modal politik untuk panggung politik kekuasaan di tahun 2009. Kaum muda harus memiliki kendaraan politik yang mampu mengantarkan cita-cita perubahan pada pintu kekuasaan (power sharing). Di sinilah letak masalahnya, kaum muda tentuk tidak akan mampu berbuat banyak jika harus menumpang pada partai-partai lama yang popularitasnya makin merosot. Beberapa tokoh muda tersaring dalam kendaraan partai lama. Namun, mereka tidak sanggup melakukan terobosan politik, apalagi mengambil peran meleading. Kaum muda membutuhkan kendaraan politik baru. sehingga, dalam kepentingan perebutan kekuasaan dipanggung pemilu 2009, kaum muda sudah sejak awal, seharusnya sudah menyiapkan partai politik baru. Pendirian parpol baru dimaksudkan menangkap sentimen politik rakyat yang menginginkan perubahan (alternatif).
Diakui atau tidak, isu kepemimpinan kaum muda merupakan antitesa dari sistem politik Indonesia yang dikangkangi oleh kaum tua. Kepemimpinan kaum tua selama bertahun-tahun tidak kunjung memberikan perubahan berarti bagi rakyat, malahan sebaliknya. Karena merupakan antitesa, maka kaum muda harus membentangkan jalan baru bagi Indonesia baru. Jalan baru ini, merupakan jalan keluar dari keterpurukan bangsa akibat dominasi asing diseluruh sektor ekonomi (imperialisme) dan mentalitas pemerintahan yang tidak berdaya melawan kepentingan asing. Jadinya, jalan baru merupakan sebuah proyek politik jangka panjang yang mensyaratkan penyingkiran semua bentuk-bentuk kekuatan politik lama. Tidak salah, kalau kemudian semboyan dari kebangkitan kaum muda adalah ; Jalan baru, partai baru, dan pemimpin baru!.
*****
® Rudi Hartono, Pengurus Pusat EN -LMND, Koordinator Divisi Sastra Sanggar Satu-Bumi, Jakarta.
lmnd prm asu!